Pengadegan, Wangon – Di antara deretan rumah warga di RT 04 RW 05 Dusun Sawangan, Desa Pengadegan, berdiri sebuah bangunan yang menjadi ruh spiritual bagi masyarakat setempat. Mushola tersebut dikenal dengan nama Mamba’ul Hisan.
Secara geografis, keberadaan mushola ini sangat mudah dikenali karena letaknya yang strategis, tepat berada di depan gedung RA Diponegoro 234 Pengadegan. Hal ini menjadikannya bukan sekadar tempat ibadah bagi warga, tetapi juga saksi interaksi antara kegiatan pendidikan anak usia dini dan masyarakat religius di sekitarnya.

Salah satu ciri khas yang membuat Mushola Mamba’ul Hisan selalu hidup adalah kegiatan Muslimatan. Tradisi pengajian ini rutin dilaksanakan setiap hari Selasa Kliwon. Pada hari tersebut, area mushola akan dipenuhi oleh jamaah perempuan yang berkumpul untuk mengaji, berzikir, dan memperkuat tali persaudaraan (ukhuwah).
Keberlangsungan kegiatan di Mushola Mamba’ul Hisan tidak lepas dari peran penting Ustadz Ahmad Saefudin. Selaku Ta’mir Mushola, beliau dikenal sebagai sosok yang telaten dalam mengasuh dan membimbing jamaah. Di bawah arahan beliau, mushola ini mampu menjalankan fungsinya dengan baik, baik sebagai tempat salat lima waktu maupun sebagai pusat pendidikan agama bagi warga Dusun Sawangan.
Nama “Mamba’ul Hisan” sendiri mengandung doa dan harapan agar tempat ini menjadi sumber kebaikan. Hingga saat ini, mushola tersebut terus konsisten menjadi wadah bagi warga RT 04 RW 05 untuk saling bertegur sapa dan meningkatkan kualitas iman.
Kehadiran Mushola Mamba’ul Hisan membuktikan bahwa kekuatan masyarakat desa bermula dari rumah ibadah yang dikelola dengan penuh keikhlasan dan semangat kebersamaan.

