Jejak Sang Pengadeg: Riwayat Soka Menggala dan Berdirinya Desa Pengadegan
Sejarah dan Asal-Usul Desa Pengadegan
1. Awal Mula dan Para Pendiri Sejarah Desa Pengadegan bermula pada akhir abad ke-18 Masehi, setelah Perjanjian Giyanti. Desa ini didirikan oleh para pengungsi dari wilayah timur (sekitar Klaten dan Kebumen) yang mencari tempat aman akibat perang saudara di Keraton Mataram.
- Koloni Pertama: Kelompok pengungsi ini awalnya membentuk koloni di Dukuh Penusupan yang dipimpin oleh Suralegi, seorang kerabat keraton atau berdarah prajurit.
- Tokoh Pendiri: Sosok sentral yang dianggap sebagai pendiri desa adalah Soka Menggala (asal Kebumen), yang kemudian dikenal sebagai Kyai Adeg Soka karena mendirikan padukuhan bernama “Pengadegan”.
- Tokoh Lainnya: Bersamaan dengan itu, datang rombongan dari Klaten yang dipimpin oleh Jagapraya, Sanubranti, dan Raden Ajeng Rumbiyah.
2. Penamaan dan Tradisi Nama “Pengadegan” diambil saat koloni pimpinan Soka Menggala semakin besar dan menjadi desa kecil. Meskipun tanggal pastinya tidak diketahui, hari berdirinya desa (kabulan) diyakini jatuh pada hari Senen Wage, yang hingga kini diperingati sebagai hari jadi desa.
3. Masa Perang dan Migrasi Lanjutan
- Perang Diponegoro: Pada masa Perang Jawa, prajurit bernama Rajeg Wesi dan Bayu Sengara ikut serta dalam perang dan makamnya kini berada di Desa Pengadegan.
- Era 1832: Setelah pembentukan Kabupaten Banyumas sekitar tahun 1832, terjadi peristiwa pageblug blabur Banyumas. Hal ini memicu gelombang pengungsi baru dari pinggiran Serayu yang kemudian menetap di wilayah Klepu dan Cangkring, Desa Pengadegan.
Periodisasi Kepemimpinan Desa
Pemerintahan Desa Pengadegan terbagi menjadi dua fase besar: masa sebelum kemerdekaan (8 orang pemimpin) dan masa sesudah kemerdekaan (7 orang pemimpin), dengan total 15 periode jabatan yang dipegang oleh 14 orang berbeda.
A. Era Perintis dan Pembangunan Fondasi (1846–1892)
- Raden Sumo Dilogo (Den Sumo/Raden Soma) [1846–1864] Merupakan Lurah pertama tunjukan dari Kabupaten Banyumas yang berasal dari Cilacap. Ia memimpin dari Sawiara (perbatasan Cilacap) selama 18 tahun hingga usia lanjut. Prestasinya adalah membentuk tatanan masyarakat desa yang saat itu SDM-nya masih rendah.
- Basadiwirya [1865–1892] Lurah kedua ini juga merupakan tunjukan kabupaten (asal Purwokerto). Ia memimpin selama 27 tahun dan dikenal sebagai lurah terlama di era awal. Berdomisili di Penusupan, prestasinya meliputi pencetakan sawah baru (Sawah Telar dan Randu) serta memperkenalkan sistem irigasi dari kali pegunungan untuk ketahanan pangan.
B. Era Perpecahan dan Penyatuan Kembali (1893–1918)
- Hadi Gentho (Lurah Gendon) [1893–1904] Merupakan lurah hasil pilihan pertama yang tinggal di Bulurempag. Pada masanya sudah ada perangkat desa (Carik, Bayan, Bau). Namun, pada tahun 1902 terjadi perpecahan (friksi) antara warga wilayah bawah dan atas.
- Desa Terbelah Dua: Desa dibagi “sigar semangka”. Lurah Gendon memimpin Pengadegan 2 (Wilayah Barat: Sawiara, Bulurempag, Penusupan, Karangaglik).
- Jayatirta [1905–1918 & 1928–1931] Awalnya terpilih memimpin wilayah timur (Pengadegan 1: Banaran, Sawangan, Rawakembang) saat desa terpecah.
- Penyatuan: Setelah Lurah Gendon lengser (1904), Jayatirta menyatukan kembali Desa Pengadegan menjadi satu wilayah utuh pada tahun 1905.
- Prestasi: Memindahkan pusat pemerintahan ke Grumbul Panggong (Panggangsari) dan membuka akses jalan penghubung antar-dukuh.
C. Era Pergerakan dan Masa Sulit (1919–1946)
- Rana Wikarta (Lampar) [1919–1927] Pendatang dari Bojong yang menjabat sebagai Penatus (pimpinan lurah se-onderdistrik Wangon). Ia mundur karena sakit kaki sebelum masa jabatannya tuntas, sehingga dijuluki “Dongkol Penatus”. Posisinya kemudian digantikan sementara oleh Jayatirta (menjabat kali kedua: 1928-1931).
- Ranu Wikarta (Kidin) [1932–1939] Pemuda asal Purwojati yang dikenal tampan, sakti, karismatik, dan berani menentang kolonial Belanda.
- Pembangunan: Mendirikan masjid pertama desa pada 1931 (dipindah ke Panggong tahun 1934).
- Konflik: Berselisih dengan insinyur Belanda terkait tinggi jembatan penghubung Desa Bantar (1938). Saat jembatan rusak akibat banjir besar Kali Lopasir (1939), ia dikambinghitamkan dan dipecat (“Dongkol Kidin”).
- Masa Recomba: Sempat diangkat kembali oleh Belanda sebagai Lurah Recomba (pemerintahan boneka), namun ia membelot ke Republik, membantu pejuang, dan akhirnya dianiaya Belanda.
- Jayadimerta [1940–1946] Memimpin di masa sulit pendudukan Jepang (1942-1945) dan masa Proklamasi. Pada masanya, Sekolah Rakyat (SR) pertama didirikan di Panggangsari (1940).
D. Era Kemerdekaan dan Orde Baru (1946–1988)
- Mardjanom [1946–1980] Memenangkan pemilihan pasca-kemerdekaan. Ia adalah lurah dengan masa jabatan terlama secara keseluruhan (34 tahun), melewati tiga zaman: Perang Kemerdekaan, Orde Lama, dan Orde Baru.
- Masa Perang (Clash): Saat Belanda datang kembali (1947-1950), ia memimpin pemerintahan pelarian (exile government) di Banaran dan ikut bergerilya, sementara pusat desa dikuasai Belanda.
- Pembangunan: Membangun SR permanen di Sawangan (sekarang SDN 01) pada 1950-1951.
- Muhyadi [1981–1988] Putra dari Lurah Mardjanom. Memindahkan pusat pemerintahan ke Grumbul Sawangan dan membangun Balai Desa (tanpa pendopo) di Panggangsari.
E. Era Modern dan Reformasi (1990–Sekarang)
- Sunaryo [1990–1997] Pendatang dari Rawaheng. Pada masanya, istilah “Lurah” diubah menjadi “Kepala Desa” (Kades). Ia membangun Pendopo Balai Desa dari kayu dan membuka banyak jalan desa baru.
- Sakiman [1997–2005] Menjabat selama 8 tahun. Pada masanya didirikan Taman Kanak-Kanak (TK).
- Chamid [2006–2012] Menjabat 6 tahun. Fokus pada pengembangan lembaga pendidikan non-formal (PAUD, TPAI).
- Nisam [2013–2019] Asal Grumbul Sambeng. Fokus pada seni, pertanian, dan adat lokal. Pada masanya, banyak investor masuk dan tanah hutan rakyat dijual ke swasta.
- Kursiwan [2019–Sekarang] Pada awal masa pemerintahannya, kepemimpinan Kursiwan menghadapi tantangan besar akibat pandemi Covid-19 yang berlangsung pada periode 2020–2023. Pasca-pandemi, Pemerintah Desa Pengadegan berhasil merealisasikan pembangunan Gedung Serbaguna dua lantai sebagai salah satu upaya pemulihan dan penguatan fasilitas desa. Sesuai dengan regulasi terbaru, masa jabatan Kepala Desa diperpanjang menjadi delapan tahun hingga tahun 2027. Pada awal Januari 2026, Kursiwan menggandeng tujuh mahasantri Kuliah Kerja Nyata (KKN) dari Ma’had Aly Andalusia untuk merealisasikan berbagai program strategis di Desa Pengadegan, Wangon, meliputi bidang keagamaan, sosial kemasyarakatan, serta digitalisasi desa. Program tersebut mencakup pencatatan dan penggalian sejarah desa, pengumpulan serta sinkronisasi data, hingga publikasi melalui portal berita desa yang digagas dan dikembangkan oleh para mahasantri KKN.
Karakteristik Kepemimpinan
Pada masa awal (Raden Soma hingga Mardjanom), kepemimpinan desa lebih mengutamakan kemampuan spiritual, kesaktian, dan keahlian bati daripada kemampuan akademik. Semakin tinggi ilmu spiritual seorang lurah, semakin ia dihormati warganya, seperti yang terlihat pada sosok Lurah Kidin.
Secara geografis, wilayah Desa Pengadegan terdiri dari 60% hamparan dataran rendah di sisi utara (ketinggian 200-250 mdpl) dan 40% perbukitan rendah di sisi selatan (ketinggian 100-200 mdpl).
- Sebaran Penduduk: Mayoritas penduduk tinggal di area bawah (utara). Hanya 20% yang tinggal di perbukitan selatan (dukuh Sambeng, Banaran, Sawiara, Bulurempag).
- Potensi: Wilayah utara yang subur dan dialiri Kali Lopasir menjadi pusat persawahan dan tegalan. Sementara sisi selatan yang berbukit memiliki banyak sumber mata air
| No | Nama Kepala Desa | Tahun Menjabat | Keterangan Singkat |
| 1 | Raden Sumo | 1846-1864 | Lurah Pertama |
| 2 | Basadiwirya | 1865-1892 | Mengembangkan pertanian awal |
| 3 | Hadi Gento | 1893-1904 | Lurah pilihan pertama |
| 4 | Jaya Tirta | 1905-1918 | Menyatukan desa yang terpecah |
| 5 | Rana Wikarta (Lampar) | 1919-1927 | Lurah Penatus, mundur karena sakit |
| 6 | Jaya Tirta | 1928-1931 | Menjabat kali ke-2 |
| 7 | Ranu Wikarta (Kidin) | 1932-1939 | Lurah pejuang, dipecat Belanda |
| 8 | Djayadimerta | 1940-1946 | Masa pendudukan Jepang |
| 9 | Mardjanom | 1946-1980 | Menjabat terlama (3 zaman) |
| 10 | Muhjadi | 1980-1988 | Membangun Balai Desa |
| 11 | Sunaryo | 1990-1997 | Istilah Lurah berubah jadi Kades |
| 12 | Sakiman | 1997-2005 | Membangun TK |
| 13 | Chamid | 2006-2012 | Mengembangkan PAUD/TPAI |
| 14 | Nisam | 2013-2019 | Masuknya investor |
| 15 | Kursiwan | 2019-sekarang | Pembangunan Gedung Serbaguna |

Sejarah Desa Pengadegan, Kecamatan Wangon, merupakan hasil proses penggalian sejarah desa yang dilakukan secara sistematis melalui penelusuran arsip dan data lama, pengumpulan berbagai sumber primer dan sekunder, pencatatan ulang, sinkronisasi data, serta publikasi informasi. Seluruh rangkaian kegiatan ini dilaksanakan oleh Mahasantri KKN Kelompok 3 Ma’had Aly Andalusia Leler Tahun 2026.
Kegiatan tersebut dilandasi oleh kesadaran akan pentingnya pelestarian tradisi dan penjagaan memori kolektif masyarakat, khususnya terkait sejarah dan warisan leluhur Desa Pengadegan. Pemerintah Desa Pengadegan turut mengawal dan mendukung proses ini, yang secara kelembagaan diakomodasi oleh Bapak Nasirin, S.H. selaku Sekretaris Desa.
Mahasantri KKN menyelesaikan proses penggalian dan pengolahan data sejarah ini dalam kurun waktu satu bulan, sebagai bagian dari realisasi program kerja KKN di bidang sosial kemasyarakatan dan digitalisasi desa. Sebagai bentuk keterbukaan akademik dan tanggung jawab ilmiah, setiap kekeliruan data maupun ketidaksesuaian hasil sinkronisasi dapat dilaporkan kepada Pemerintah Desa Pengadegan atau kepada tim Mahasantri KKN untuk dilakukan verifikasi dan revisi secara cepat, objektif, dan akuntabel.



