Pengadegan, Wangon – Di sudut RT 03 RW 11, Dusun Bulu Rempag, Desa Pengadegan, berdiri sebuah bangunan sederhana namun sarat akan nilai sejarah. Mushola Baitur Rahman namanya. Meski kini berstatus sebagai tempat ibadah tingkat lingkungan, siapa sangka bangunan ini memiliki ikatan kuat dengan sejarah masjid pertama di wilayah tersebut.
Jauh sebelum dikenal sebagai Mushola Baitur Rahman, lokasi ini merupakan tempat berdirinya Masjid Darussalam. Bagi masyarakat setempat, Masjid Darussalam bukan sekadar tempat ibadah biasa, melainkan masjid pertama yang menjadi pusat kegiatan keagamaan di Dusun Bulu Rempag.
Namun, sejarah mencatat masa sulit bagi bangunan ini. Pada sekitar tahun 1992, bangunan masjid tersebut mengalami kerusakan parah hingga akhirnya roboh. Kejadian ini sempat membuat warga kehilangan tempat utama untuk melaksanakan salat berjamaah.

Setelah masjid lama roboh, semangat warga untuk memiliki tempat ibadah tidak luntur. Warga memutuskan untuk memindahkan lokasi pembangunan masjid ke tempat yang berbeda agar tetap bisa menampung jemaah yang lebih luas. Masjid baru pun berhasil didirikan di lokasi lain untuk melanjutkan estafet ibadah masyarakat.
Meski sudah ada masjid baru, lokasi lama di RT 03 tidak dibiarkan terbengkalai begitu saja. Keinginan warga untuk menghidupkan kembali syiar Islam di titik tersebut tetap membara.
Setelah menunggu beberapa tahun, tepatnya pada awal tahun 2000-an, warga kembali bergotong royong. Di atas lahan bersejarah tersebut, dibangunlah sebuah mushola yang diberi nama Baitur Rahman.
Hingga saat ini, Mushola Baitur Rahman dikelola dengan baik oleh pengurus setempat. Di bawah bimbingan Bapak Simun selaku Takmir, mushola ini aktif digunakan untuk kegiatan salat lima waktu dan pengajian rutin warga.
Kini, Mushola Baitur Rahman berdiri kokoh sebagai simbol keteguhan iman dan kekompakan warga Dusun Bulu Rempag dalam merawat warisan spiritual mereka.

